ilustrasi (ist)
Surabaya - Proyek moda transportasi Mass Rapid Transit (MRT) berbasis kereta listrik dengan rute Stasiun Gubeng-Bandara Juanda ternyata masih dalam pengkajian studi kelayakan.
Proyek berkonsep rel ganda atau double track railway elevated yang selama ini sudah digembar-gemborkan pemerintah daerah ini masih belum menemukan titik temu komposisi kerjasama yang akan melibatkan swasta
"Pemerintah sejauh ini masih ingin mengkaji besaran masing-masing porsi swasta, pemerintah pusat, daerah kabupaten dan kota," kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono kepada wartawan, Minggu (21/8/2011).
Bambang memperkirakan, studi yang dilakukan kemungkinan baru akan selesai tahun 2011 ini. Sehingga proyek double track railway elevated yang diharapkan dapat mengurai kepadatan arus lalu lintas di Jalan Ahmad Yani ini baru bisa diketahui skema pembiayaannya.
"Setelah itu, baru akan dilakukan market sounding," imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, jika proyek mendapatkan kucuran dana awal sebesar Rp 30 miliar dari APBN itu akan tetap berjalan meskipun belum ada investor yang siap mendanai. Untuk pelaksanaan tahap awal, akan dibangun tiang pancang di jalur Aloha-Juanda. Langkah itu untuk memancing masuknya investor.
Roadmap proyek kereta api sepanjang 110 Km yang terintegrasi dengan berbagai kota di Jawa Timur itu sebelumnya telah ditandatangani oleh Menteri Perhubungan saat dijabat Djuasman Syafeii Djamal dan Gubernur Jatim Imam Utomo pada 5 Agustus 2008.
Proyek itu terbagi atas dua tahap dengan total jalur yang dikerjakan mencapai panjang 110 km. Tahap I, skenarionya terdiri atas ruas Kandangan (Sby)-Surabaya-Waru-Sidoarjo sepanjang 42 km termasuk program double track dan membuat jalur rel yang ditinggikan (elevated).
Tahap ini juga termasuk perbaikan stasiun dan pembangunan sejumlah perhentian (shalter). Tahap II berupa pembangunan jaringan KA menjadi double track untuk
ruas Kandangan Surabaya-Lamongan, Surabaya-Mojokerto, Waru-Sidoarjo-Porong Sidoarjo-Bangil Pasuruan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar